#MemimpinIndonesia, Ikhtiar KAMMI untuk Indonesia

#MemimpinIndonesia, Ikhtiar KAMMI untuk Indonesia

Agenda Muktamar XI Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sudah ditabuh. Muktamar XI KAMMI adalah agenda untuk mengolaborasikan ide dan menciptakan momentum yang tepat untuk Indonesia. Dan berbicara mengenai momentum dan ide, Saya memulai dari pembicaraan mengenai “Berapa jumlah kader KAMMI saat ini?”

Berbicara jumlah kader KAMMI, yang pasti, saat momentum Muktamar, disepakati bahwa target rekruitmen adalah 100.000 kader. Jumlah yang sangat besar. Bila dihitung dalam kurun waktu 10 tahun, dengan asumsi bahwa target tetap, maka KAMMI menargetkan 1.000.000 pemuda ambil bagian berkontribusi melalui KAMMI atau 1,6 % dari populasi penduduk Indonesia yang dikategorikan pemuda saat ini. Bila ini dilalui dengan serius, rasio kader KAMMI dan pemuda Indonesia adalah 1:63, dimana pada setiap 63 pemuda Indonesia, seorang Kader KAMMI ada diantaranya. Itu baru kader yang ditargetkan direkrut, belum kita kalkulasi dengan kader yang sudah lebih dulu ada di KAMMI dan para alumni-nya. Jelaslah, bahwa kuantitas kader yang banyak merupakan salah satu keunggulan KAMMI ke depan.

Selain daripada itu, sebaran kader KAMMI sudah sangat luas. Mulai dari Universitas Negeri ternama di Indonesia sampai dengan Universitas maupun kampus swasta di berbagai penjuru tanah air. Kader KAMMI dibesarkan dalam lingkungan akademik perguruan tinggi, yang tentunya memiliki bekal yang cukup sebagai agent of change maupun social control. Sebuah modal kualitas yang sangat baik untuk mendorong perbaikan dan perubahan untuk Indonesia.

Sehingga, dalam momentum Muktamar kali ini, saya ingin menyampaikan tentang ikhtiar kita bersama #MemimpinIndonesia. Sebuah elaborasi dari visi besar KAMMI. Sebuah narasi untuk menjadikan KAMMI unggul dalam kontribusi dan unggul sebagai representasi pemuda Indonesia. Ikhtiar untuk #MemimpinIndonesia selanjutnya saya derivasi-kan ke dalam lima kontribusi, yakni sebagai: Economic Leader, Intelektual Leader, Social Leader, Political Leader, dan Islamic Leader.

Economic Leader

Kuantitas kader KAMMI saat ini, dalam perspektif saya, masih sebatas di-tranformasikan ke dalam bentuk kekuatan politik nilai. Semisal, mengawal/mengadvokasi isu-isu yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Itu-pun konsentrasinya dipecah, mulai dari isu pusat, sampai isu kampus. Padahal, tidak hanya itu, KAMMI dapat ditranformasikan sebagai suatu kekuatan ekonomi Indonesia, khususnya ekonomi kerakyatan yang berbasis syari’ah. Sinyal kepeloporan dalam bidang ini ditunjukkan dengan kehadiran KAMMI sebagai inisiator dalam Muktamar Pemuda Islam yang salah satunya menyepakati kontribusi pemuda Islam dalam isu ekonomi keummatan.

Selain daripada itu, isu ekonomi tidak lepas dari massifnya ekspansi negara-negara lain ke Indonesia yang tidak bisa dianggap sebelah mata. One belt on road (OBOR) sebagai kerjasama yang di-inisiasi Bersama dengan negara Tiongkok, maupun ekspansi ekonomi lainnya ke Indonesia, perlahan berpotensi menggugurkan kedaulatan ekonomi rakyat. Selama ini, pemuda Indonesia dalam skala besar, masih dijadikan sebagai objek. Padahal, sejatinya kita semua mampu untuk hadir sebagai subjek dalam kesejahteraan Rakyat.

Lalu, bagaimana kontribusi KAMMI sebagai Economic Leader? Ada dua poin disini, yakni: gerakan ekonomi kemandirian Eksternal dan gerakan kemandirian ekonomi Internal.

Gerakan Kemandirian Ekonomi Eskternal

Pertama, gerakan kemandirian ekonomi eksternal. Gerakan ekonomi kerakyatan dalam bentuk koperasi kembali untuk dibangkitkan. Beberapa tahun yang lalu, KAMMI sempat menggagas apa yang dinamakan “Komindo”, sebuah arah gerakan kontribusi KAMMI dalam bidang Ekonomi. Namun, karena momentum yang belum tepat, akhirnya belum berkembang secara maksimal. Saat ini, kita perlu kembangkan kembali gerakan tersebut, dengan penyesuaian atas karakter disruptif saat ini. Langkah-langkah gerakan ekonomi eksternal adalah sebagai berikut:

  1. Membangun jejaring dengan desa, pesantren maupun UMKM di Indonesia. Mereka sumber-sumber dari produk asli Indonesia yang bisa KAMMI besarkan. Bayangkan saja, dengan arus yang jelas dan terkoordinir, geliat ekonomi kerakyatan bisa bangkit di seluruh titik Indonesia, dengan KAMMI disana sebagai inisiatornya. Secara teknis, kita membangun startup berbasis koperasi dengan akad syari’ah, dimana seluruh masyarakat mendapatkan keuntungan secara adil.
  2. Membangun jejaring tokoh dan menokohkan. Mereka adalah kunci-kunci dari rekayasa social ekonomi yang kita bangun. Ide ini, tentu saya akui sudah ada bahkan sebelum saya tulis disini. Namun, perjalanannya belum begitu optimal. Sehingga, evaluasi dari perjalanan tersebut sebagai modal KAMMI untuk besarkan gerakan ekonomi kerakyatan ini. Selain itu, KAMMI hadir meng-advokasi kebijakan ekonomi dari pemerintah, khususnya yang berkaitan dan bersentuhan langsung dengan rakyat, seperti kemudahan memulai usaha, persaingan usaha, penciptaan pengusaha-pengusaha baru, dan lain sebagainya.

Gerakan Kemandirian Ekonomi Internal

Kedua, gerakan kemandirian ekonomi internal. Usia seorang kader untuk dibesarkan dan membesarkan KAMMI, berbatas sampai dengan umur 30 tahun, sehingga +/- ada 10 tahun waktu untuk berproses. Kita bisa melihat, bagaimana saat ini sudah banyak milenial yang mampu mencapai kebebasan finansial, bahkan saat usianya di bawah 30 tahun, atau yang dikenal dengan billionaire under 30. Selain itu, Lembaga-lembaga atau coaching clinic untuk menciptakan banyak pengusaha muda, sudah hadir dimana-mana.

Selanjutnya, KAMMI secara Internal belum secara massif dan sistemik, mendorong kadernya untuk memiliki kemandirian ekonomi. Jika berbicara data berapa kader yang sudah jadi entrepreneur di bawah 30 tahun, sepertinya memang perlu diriset lebih lanjut. Padahal, kemandirian ekonomi mahasiswa jelas sebagai salah satu misi dari KAMMI.

Sehingga, kita akan memulai merancang secara khusus, tentang system yang menjadikan kader mampu memiliki kemandirian ekonomi saat usia di bawah 30 tahun. Sebuah startup saja, rerata lima tahun untuk selanjutnya dapat dikatakan stabil dan bertahan. Artinya, 10 tahun waktu yang sangat cukup untuk mencetak paradigma kemandirian ekonomi dan berproses untuk menjadi mandiri.

Penutup

Economic Leader adalah interpretasi atas sisi aksiologis KAMMI yang kita ejawantahkan dalam bentuk aksi kebermanfaatan dalam bidang ekonomi. Mengapa perlu? Agar saat seorang kader purna-amanah dari KAMMI, dia sudah selesai dengan dirinya sendiri dan mulai untuk berbicara lebih jauh tentang membangun dan #MemimpinIndonesia.

— bersambung.

*) Penulis diamanahkan sebagai Calon Ketua Umum PP KAMMI 2019-2021 saat momentum Rapimnas II KAMMI di Nusa Tenggara Barat.
Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Kabid Kaderisasi Komisariat UPI Kampus Tasikmalaya (2011), Kabid Humas PD KAMMI Tasikmalaya (2012-2013), Kabid KP PD KAMMI Tasikmalaya (2013), Sekjen PD KAMMI Tasikmalaya (2014), Ketua Umum PD KAMMI Tasikmalaya (2015), Ketua Umum PW KAMMI Jawa Barat (2015-2017), Ketua PP KAMMI Bidang Pendidikan dan Pemuda (2018), Ketua PP KAMMI Bidang Hubungan Masyarakat (2019).

Tinggalkan komentar