Pemilihan Kaprodi PGSD UPI Tasikmalaya: Sebuah Catatan

Pemilihan Kaprodi PGSD UPI Tasikmalaya: Sebuah Catatan

Pemilihan ketua prodi PGSD periode 2019-2023 akan dilaksanakan beberapa waktu ke depan. Saya ucapkan terimakasih kepada Bp Dindin AML, S.Si., S.E., M.Pd. atas dedikasinya sebagai ketua prodi PGSD 2014-2019, sebuah ucapan terimakasih dari seorang Mahasiswa yang dididik dan sekarang berkesempatan untuk berkiprah mengabdi kepada almamater.

Ada ragam karya yang bisa diceritakan, namun salah satu yang menarik adalah dedikasi terhadap mahasiswa dan alumni. Setidaknya saya mencatat, seorang Ketua Prodi sampai mau menginisiasi untuk membuat grup-grup persiapan S2, CPNS, bahkan grup tentang hal-hal yang sifatnya pengembangan diri dan kepemimpinan sejatinya tidak sederhana. Tidak jarang untuk mendengar dan mengundang diskusi langsung. Bukan dalam perkara teknis, namun lebih kepada perkara filosofis. Kerja-kerja senyap yang terkadang tidak menjadi lirikan yang lain sejak awal.

“Untuk apa melakukan kerja-kerja teknis seperti ini? Bahkan, kegiatan seperti ini pun tidak menjadi salah satu pemenuhan kewajiban pengabdian yang disetorkan setiap akhir tahun.” pikir saya sesekali.

Ah, namun ternyata, hal sederhana seperti itu sangat dirasakan oleh Mahasiswa maupun alumni. Melihat lebih dari 300 alumni diterima CPNS, prodi berakreditasi A, Semangat melanjutkan studi meningkat, dan karya lainnya ternyata adalah efek yang berbanding lurus dengan semangat yang dihadirkan.

Ketua Prodi ternyata tidak hanya mengelola manajerial yang sudah menjadi tupoksi secara administratif, namun juga mampus untuk menangkap kegembiraan dan menghadirkan diri bagi para mahasiswa maupun alumninya.
Saya belajar banyak. Sebuah dedikasi yang menjadi teladan dan mendorong saya pada akhirnya untuk siap berkhidmat juga dalam aktivitas keorganisasian maupun akademik Mahasiswa.

Momentum pemilihan ini sekaligus menjadi masa berpisah dan bertemu. Berpisah atas kepemimpinan lama, dan bertemu dengan kepemimpinan yang baru. Yah, meskipun berpisah dan bertemu ini hanya dalam “wujud”, bukan dalam kerangka “ide” yang dibangun sejak lama. Karena memang, jika berbicara ide, PGSD akan senantiasa berkembang dengan kerja-kerja kolektif sivitas-nya.

Tantangan ke depan memang semakin menarik. Selain menyambut karakteristik -meminjam istilah dari Pew Research Center- generasi post-millenials yang dikenal sebagai techno junkies, cenderung asosial, dan berkehendak serba instan, PGSD pun akan dihadapkan dalam kurikulum baru yang perlu adaptif untuk menghasilkan lulusan literat data, teknologi, dan manusia.

Selanjutnya, kedua kandidat terbaik Kaprodi PGSD-pun adalah guru saya sejak masih di mahasiswa. Dan saya bangga pernah menjadi bagian yang sempat dididik mereka. Kandidat terbaik sudah dihadirkan, yang tentunya menawarkan gagasan solutif.

Semoga, siapapun yang terpilih, mampu mengayomi dan membawa prodi PGSD menjadi semakin pelopor dan unggul.

Bandung, 26 Juni 2019.

Tinggalkan komentar