Temu Civitas Akademika (TCA): Tradisi atau Substansi?

Temu Civitas Akademika (TCA): Tradisi atau Substansi?

Temu Civitas Akademika (TCA) merupakan perhelatan dua tahunan yang pada awalnya dilaksanakan antar program studi PGSD, baik PGSD yang berada di Bumi Siliwangi, maupun PGSD yang tersebar di lima Kampus UPI di Daerah.
Rangkaian agenda TCA memang mayoritas diisi oleh perlombaaan sesama civitas akademika, khususnya mahasiswa. Adapun cabang yang diangkat dalam perlombaan berkaitan dengan: kesenian, pendidikan, olahraga, dan keagamaan.

Namun, ada yang menarik seiring semakin berkembangnya Kampus UPI di daerah. Satu sisi, Kampus UPI di daerah mulai mengembangkan prodi baru, baik pendidikan maupun non-pendidikan. Hal ini tentu secara tidak langsung berdampak pada sakralitas penyelenggaraan TCA. Sisi lain, prodi PGSD UPI Bumi Siliwangi yang biasanya juga menjadi peserta agenda TCA, menjadi cukup anomali dipandang karena unsur penyelenggaraan TCA kali ini, bukan lagi mengatasnamakan agenda PGSD di UPI, namun lebih luas daripada itu, merupakan agenda pertemuan civitas yang melibatkan beragam prodi dari Kampus UPI di Daerah.

Penulis saat berangkat rapat bersama dengan rekan-rekan panitia TCA XIV di Purwakarta

Sejatinya, substansi dari TCA adalah silaturahim dan silatufikir antar civitas terutama Kampus UPI di daerah. TCA adalah perhelatan strategis di tengah perkembangan dunia kampus yang semakin ketat. Dengan catatan, bila perhelatan ini tidak hanya dilalui dalam bentuk eventual semata. Ada banyak narasi yang bisa dibangun, entah sebagai basis evaluasi dua tahunan, konferensi yang membahas tentang suatu isu yang kemudian menyepakati hal-hal yang bisa dibangun bersama dalam kerangka waktu dan kerja, ataupun momentum memamerkan karya-karya UPI di mata nasional maupun internasional secara berkala, mengingat Kampus kali ini perlu beradaptasi dalam era revolusi 4.0.

Coba bayangkan, kapan lagi momentum untuk mengumpulkan civitas UPI yang tersebar di lima kampus daerah dengan kuantitas yang besar. Bahkan, bila mahasiswa mampu untuk swadaya berangkat, merupakan peluang yang sangat strategis dalam membangun brand identity UPI sebagai perguruan tinggi yang leading & outstanding.  Apalagi penyelenggaraan dilaksanakan secara bergantian dari satu daerah ke daerah yang lain sangat mungkin untuk memacu tri-dharma Perguruan Tinggi UPI. Memang butuh waktu, namun sepertinya momentum TCA XVII ini bisa sebagai landasan pacu untuk berbicara hal-hal lebih besar ke depan, di tengah era disrupsi yang semakin masif.

Adapun, berbicara tradisi, ini pun tidak boleh lepas, agar nilai-nilai historikal tetap bersemayam bersama semakin besarnya agenda TCA ini. Meskipun, terjadi shifting secara filosofis. Meski semakin semarak, TCA ini tetap menyimpan sejarah bagaimana kampus daerah dulu berkembang pada mula dengan unggulan prodi PGSD-nya. Penyelenggaraan TCA seolah mengingatkan kita semua tentang sejauh mana UPI Kampus di daerah untuk menguatkan core bussiness kependidikan-dasaran. TCA adalah ritual otentik Kampus UPI di daerah, dan perlu untuk terus berkembang dan semakin menjadi kegiatan yang memiliki dampak yang positif, baik untuk mahasiswa, dosen, maupun lembaga UPI.

Tasikmalaya, 22 April 2019.

Tinggalkan komentar