The Shifting Education: Sebuah Keniscayaan Era Pendidikan 3.0

The Shifting Education: Sebuah Keniscayaan Era Pendidikan 3.0

The Shifting Education, apa itu?

Hal tersebut barangkali menjadi pertanyaan awal kita dalam memulai pembahasan berkaitan dengan hal-hal yang perlu kita lihat bersama dalam era disruptif. Bagi Anda yang sering membaca mengenai dunia bisnis atau ekonomi, istilah “shifting” tentu sudah tidak asing lagi. Istilah ini merujuk kepada perubahan pola konsumen yang pada awalnya berbasis tradisional menuju kepada platform teknologi yang berhasil memecah (cracking) aturan-aturan lama dalam dunia bisnis dan ekonomi. Sekali lagi, semua hal itu tidak lepas dari pengaruh disruptif.

Berbicara era disruptif, pendidikan menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan. Pendidikan akan terdampak, cepat ataupun lambat atas perkembangan teknologi dan pada akhirnya mendorong perkembangan cara berpikir kita. Hanya memang, masih sedikit diantara kita yang mencoba membahas mengenai dampak yang dapat terjadi dari era disruptif ini. Sehingga, istilah the shifting education akan saya angkat sebagai bahan diskusi-diskusi kita ke depan.

Sejak kapan anak-anak disiapkan untuk masa depan?

Pendidikan sejatinya dilaksanakan untuk membantu seorang anak mempersiapkan masa depan. Melalui pendidikan, seorang anak dibekali berbagai macam pengetahuan agar di masa depan, dia mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Apalagi, saat melihat perubahan saat ini yang begitu pesat.

Saya ambil sebuah contoh saja dari anak-anak di Skotlandia, dimana sejak kecil mereka sudah dilatih untuk mampu membuat coding suatu program atau piranti lunak sejak usia 9 tahun. Bahkan, di Amerika Serikat, kompetisi untuk pengembangan piranti lunak bagi anak-anak sudah umum dilakukan. Sebut saja kegiatan Hackathon (Hacking + Marathon), yang merupakan sebuah kompetisi untuk membangun aplikasi secara marathon dalam kurun waktu yang sangat singkat. Hal ini yang kemudian diadopsi oleh Indonesia dan sudah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.

usborne.com

Saat negara lain mulai sejak anak-anak untuk mempelajari coding dan diproyeksikan saat sudah beranjak dewasa mereka menjadi ahli di bidang programming ini, misalnya. Bagaimana kemudian dengan Indonesia? Sesuatu yang dulu dianggap konten yang hanya tepat diberikan untuk orang dewasa, saat ini malah dimulai sejak anak-anak. Bila kemudian anak-anak Indonesia tidak dipersiapkan dari sekarang, lantas bagaimana anak-anak beradaptasi di masa depan?

Perubahan inilah yang pada akhirnya perlu disadari oleh berbagai pihak. Mau tidak mau, pada akhirnya fenomena disruptif ini pun akan dihadapi, dan saat ini bahkan sudah masuk di Universitas. Cara pandang lama perlu segera diperbaharui agar bonus demografi yang katanya menjadi keberkahan tersendiri untuk Indonesia, benar-benar dapat dioptimalkan.

Pendidikan 3.0, mulai dari mana?

Pendidikan terus berkembang, dan para ahli memandang bahwa pendidikan terus menerus bertransformasi. Salah satunya adalah munculnya konsep pendidikan 3.0, dimana pendidikan dikembangkan dengan integrasi terhadap teknologi. Artinya, dalam pendidikan 3.0, pembelajaran dengan heutagogi lebih menjadi prioritas dengan memperhatikan otonomi dan kematangan peserta didik.

usergeneratededucation.wordpress.com

Selain itu, pendidikan 3.0 berbicara tentang pergeseran paradigma belajar, dimana belajar yang awal mulanya semua difokuskan pada institusi sekolah formal, saat ini mulai bergerak kembali kepada masyarakat. Lihat saja, cukup marak dan berjamur pola-pola pendidikan yang menggunakan sistem homeschooling, ataupun sekolah yang terintegrasi dengan pesantren dan menggunakan kurikulum mandiri dan khusus. Pada saatnya, pemerintah hanya berperan sebagai pelaku administratif saja yang mengatur agar sistem tidak semrawut.

The Shifting Education

Sudah saatnya insan pendidikan mulai melihat secara lebih serius tentang pergeseran pendidikan ini. Apalagi, dengan nuansa kompetisi masa depan yang begitu ketat, dan melihat kenyataan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) peserta didik di negara kita masih rendah, banyak pekerjaan rumah yang harus sama-sama diselesaikan.

Pergeseran pendidikan sedang terjadi. Hal ini akan berdampak tentang apa yang harus dilakukan oleh guru, bagaimana sistem pembelajaran dan asesmen-nya, serta bagaimana mengoptimalkan keterlibatan masyarakat dalam pembelajaran, termasuk orangtua.  Mau tidak mau perubahan yang begitu cepat terjadi, bahkan dalam hitungan yang sangat singkat, perlu disadari oleh semua pihak.

Orangtua saat ini bahkan semakin berperan dalam pengembangan dan pendidikan peserta didik. Apalagi, saat melihat bagaimana pola pekerjaan di era teknologi ini dimana pekerjaan-pekerjaan kantor sudah mulai dapat dipindahkan ke rumah masing-masing. Pada akhirnya, orang tua zaman sekarang memiliki waktu yang lebih banyak bersama dengan anaknya tanpa harus takut kehilangan pemasukan, bila dibandingkan dengan orang tua zaman dahulu.

Perubahan sedang kita rasakan terjadi di sekeliling kita. Sekolah sebagai salah satu institusi yang mengemban tanggungjawab pendidikan nasional, perlu mendapatkan perhatian khusus.

Pergeseran dalam melihat arah pendidikan perlu menjadi bahan diskusi yang lebih intens. Maka, tulisan ini mengawali tentang the Shifting Education yang akan coba saya perkenalkan, dan bersama-sama kita bahas ke depan.

Terakhir, saya tutup tulisan ini dengan quote dari Rhenald Kasali yang diambil dari cover bukunya yang berjudul Disruption, “Tak ada yang tak bisa dirubah sebelum dihadapi. Motivasi saja tidak cukup!”.

Sekian, semoga bermanfaat.

M. Rijal W. Muharram

Tinggalkan komentar