Mensyukuri Kehidupan: Apresiasi Karya Seni Tertinggi, Sepakat?

Mensyukuri Kehidupan: Apresiasi Karya Seni Tertinggi, Sepakat?

Bagi kita, sebagai manusia, menikmati karya seni adalah rekreasi tersendiri atas pikiran kita. Sebagai contoh, seseorang pergi ke pameran seni rupa, melihat berbagai macam karya cipta lukisan yang sangat menggugah rasa dan karsa. Ragam variasi aliran, mulai dari fauvisme, kubisme, realisme, hingga aliran abstraksionisme. Ah, sepertinya hati begitu tenang selepas melihat semua karya lukis tersebut.

Aliran Lukisan Fauvisme, Sumber: sahabatnesia.com

Atau, sesekali kita membaca novel karya penulis-penulis ternama. Membacanya, mengajak kita masuk ke dunia antah berantah, dunia yang penuh dengan cinta, kesenangan, atau bahkan konflik yang menggugah. Sepertinya, 365 halaman bisa kita “lahap” dengan begitu cepat dalam beberapa hari. Dan, masih banyak apresiasi atas karya-karya cipta para seniman yang membuat kita merasa begitu senang dan tenang.

Hal seperti itu, wajar sebagai seorang manusia. Manusia memang diberikan apa yang disebut potensi estetika. Bahkan, tentang estetika itu sendiri, seorang filsuf Yunani bernama Plotinus (204 – 74 SM) yang dikenal dengan neoplatonisme-nya menjelaskan bahwa estetika adalah keindahan yang memiliki nilai spiritual karena itu estetika dekat sekali dengan kehidupan moral.

Menikmati Keindahan Penciptaan-Nya

Berdecak kagum atas karya lukisan, bahkan ada seseorang yang berani membeli satu karya lukis dengan nominal yang tidak sedikit. Namun, pernahkah kita berpikir, atas karya cipta tersebut yang sebenarnya keseluruhan adalah “meniru” atas penciptaan dari Dzat Yang Maha Indah. Semisal, seseorang melukis tentang keindahan alam, baik itu pemandangan, hewan, ataupun tumbuhan, bukankah hal tersebut hanya “menyajikan ulang” atas karya yang sebenarnya sudah tercipta. Bila satu karya lukis tentang pemandangan saja berani diapresiasi dengan begitu tinggi, lantas nalar logika kita sepatutnya mengapresiasi “sumber inspirasi” karya tersebut dengan lebih tinggi. Bahkan, sumber inspirasi tersebut mampu untuk bergerak leluasa, meliuk-liuk bahkan melambai-lambai, tidak hanya berdiam dalam satu sudut kanvas saja.

Sesekali, cobalah kita tengok langit, suatu kanvas raksasa yang sangat indah. Saat siang, kanvas tersebut berwarna biru, saat malam, kanvas tersebut berwarna hitam. Setiap harinya, menyajikan karya terbaru dan diganti dengan guratan-guratan lukisan yang berbeda-beda. Sesekali berisi pola-pola yang hanya diisi oleh awan saja, sesekali berisi pola-pola yang dibarengi oleh matahari, sesekali berisi dengan gugusan-gugusan bintang, yang masing-masing memiliki pola yang begitu indah. Jadi, seandainya kamu lagi bosan, gagal move on, cemberut, dan lain sebagainya, tengoklah ke langit. Biarkan guratan langit tersebut menghibur kamu.

sumber: nbcnews.com

Atau, sesekali kita memutar beberapa lagu untuk menemani aktivitas sehari-hari, entah itu belajar, bekerja, ataupun yang lainnya. Bahkan, bila kita memiliki artis atau grup idola, sepertinya tidak sabar untuk menanti lagu baru yang disajikan. Ah, sepertinya mendengarkan lagu itu menenangkan hati, membuka memori, ataupun mendorong diri menjadi lebih semangat. Namun, pernahkah kita berpikir, misalnya, setiap pagi suara ayam dan burung bersahutan, gemericik suara hujan yang terdengar begitu syahdu, atau suara jangkrik di tengah malam yang sepertinya begitu berpola, tanpa perlu sosok konduktor. Tentu masih banyak lagi contoh lain, dan lantas seberapa sering kita mengapresiasi hal tersebut. Bahkan, sahutan ayam dan burung di pagi, sepertinya adalah panggilan mereka untuk manusia. Imajinasikan saja, sahutan ayam dan burung ini sedang berkata kepada kita,

“Bangun, Gan! Jangan tidur lagi. Rezeki ayo kalian jemput!”.

Merenda Kesimpulan

Jadi, memang, ketika seseorang itu memiliki apresiasi tinggi terhadap karya seni, bahkan dimana orang lain yang awam tidak paham, sewajarnya hal tersebut berbanding lurus dengan mensyukuri penciptaan, mensyukuri kehidupan. Hal yang memang masih menjadi pekerjaan rumah, untuk kita semua. Karena, meningkatkan maqom itu bukan hal yang mudah memang. Tetapi, bila kita memiliki niat untuk memulai, bukankah hal tersebut perlahan akan menjadi mudah. Karena, titik kesulitan itu hanya berada di awal saja, “sesungguhnya sesudah kesulitan, ada kemudahan [QS. 94:6]”. Jadi, jelas ya, hanya perlu untuk bersabar di awal, dan selanjutnya kita akan menemukan kemudahan.

Sehingga, hati kita sepatutnya semakin merasakan lebih nyaman dan tenang. Apalagi, saat menikmati tentang karya seni, apapun itu. Cocok barangkali jika saya buat dalam quote sederhana untuk penutup tulisan ini,

Apresiasi tertinggi atas suatu karya seni adalah dengan mensyukuri kehidupan.

2 pemikiran pada “Mensyukuri Kehidupan: Apresiasi Karya Seni Tertinggi, Sepakat?”

Tinggalkan komentar